Kamis, 26 Maret 2020

Penyusunan tes bahasa

RESUME EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Tentang :
“PENYUSUNAN TES BAHASA”

Disusun oleh :
RIZQOTUS SA’DIYAH (17188201034)

Dosen Pembimbing :
M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA
PASURUAN

BAB IV : PENYUSUNAN TES BAHASA

Perencanaan merupakan langkah awal penyusunan tes. Dengan perencanaan yang matang, tes yang dihasilkan akan berkualitas. Tanpa perencanaan yang matang sukar bagi evaluator untuk memperoleh tes yang baik. Tes yang tidak berfungsi dengan baik akan memberikan informasi yang kurang akurat dan kurang dapat dipercaya, sehingga apabila informasi tersebut digunakan akan mengakibatkan keputusan yang diambil keliru. Tes akan berfungsi baik apabila disusun menurut kaidah penyusunan tes yang baik. Kaidah tersebut berupa langkah-langkah penyusunan tes. Langkah-langkah penyusunan tes meliputi sembilan langkahberikut: menysun tujuan tes, menyusun kisi-kisi tes, menulis soal tes, menelaah soal tes, melakukan uji coba tes, menganalisis butir soal, memperbaiki tes, merakit tes, menggunakan tes, dan menafsirkan hasil hasil tes.
Menentukan tujuan tes, ditinjau dari tujuannya, ada empat macam tes yang digunakan di lembaga pendidikan, yaitu tes penempatan, tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif. Sistem penilaian berbasis kompetensi pada umumnya menggunakan tes diagnosik, formatif, dan sumatif. Tes diagnostik berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, termasuk kesalahan pemahaman konsep. Tes formatif bertujuan untuk memperoleh masukan tentang tingkat keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Tes sumatif diberikan diakhir suatu pelajaran, atau akhir semester. Hasilnya untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didk. Dasar merumuskan tujuan tes bahasa dan sastra indonesia adalah tujuan yang hendak dicapai dalam program atau pembelajaran bahasa dan sastra indonesia pada jenjang atau tingkat tertentu. Menyusun kisi-kisi tes, kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi sosial-sosial yang akan dibuat syarat kisi-kisi antara lain, 1. Harus mewakili kurikulum, 2. Ditulis dengan singkat dan jelas, dan 3. Soal dapat disusun sesuai dengan bentuk soal. Matriks kisi-kisi soal terdiri dari dua jalur, yaitu kolom dan garis. Selanjutnya dalam kisi-kisi perlu ditunjukkan jenis yakni bentuk tes. Jenis yakni bentuk tes yang tepat ditentukan oleh tujuan tes, peserta tes, waktu yang tersedian untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Jenis tes yang digunakan bisa berupa tes objektif atau tes non-objektif. Jenis tes objektif meliputi tes benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, dan melengkapi soal tes. Jenis non-objektif mampu mengukur jenis belajar yang kompleks, walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mengukur pengtahuan-pengetahuan faktual. Selain jenis-jenis tes di atas, dalam kurikulum dikembangkan jenis tes perbuatan atau tes performans/unjuk kerja. Hasil tes ini digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga kemampuan peserta didik mencapai pada tingkat yang diinginkan. Menulis soal tes, sebelum soal-soal tes disusun, terlebih dahulu ditentukan jumlah butir tes yang akan dibuat. Dasar penentuan jumlah butir tes adalah jenis dan bentuk tes yang digunakan. Untuk jenis tes objektif diperlukan jumlah butir tes yang jauh lebih besar dari pada tes non-objektif. Setelah ditetapkan jumlah butir tes yang harus dipersiapkan sesuai dengan jenis dan bentuk tes yang akan digunakan, selanjutnya dilakukan penulisan butir-butir tes. Menelaah soal tes, telaah butir tes dilakukan terhadap ranah materi, ranah konstruksi, dan ranah bahasa. Ranah materi berkait dengan substansi keilmuan yang dinyatakan serta tingkat berfikir yang terlibat. Ranah konstruksi berkait dengan teknik penulisan soal, baik bentuk objektif maupun non-objektif. Ranah bahasa terkait dengan kekomunikatifan/kejelasan hal yang ditanyakan. Melakukan uji coba tes, tujuan uji coba adalah untuk mengukur validitas dan reabilitas. Uji vadilitas dimaksudkan untuk mencari kesesuaian tes dengan kemampuan yang akan diukur. Uji reabilitas dimaksudkan untuk melihat kemampuan tes tersebut melakukan pengukuran dengan tingkat keajekan tertentu. Menganalisis butir soal tes, untuk tes buatan guru yang tidak melalui langkah uji coba, maka setelah tes digunakan maka guru dapat melakukan analisis butir soal. Apabila hal in i sering dilakukan, kemampuan guru dalam membuat tes yang baik akan tercapai.
Memperbaiki tes seluruh butir tes / soal ditelaah dari ranah materi, konstruksi, dan bahasa; dan setelah dianalisis derajat kesukaran dan daya bedanya, kemudian dikelompokkan menjadi tiga, yaitu butir-butir tes yang dianggap baik/ diterima, butir-butir tes yang tidak baik/ditolak, dan butir-butir tes yang kurang baik, diperbaiki. Merakit tes, dalam merakit tes, butir-butir soal dapat dikelompokkan menurut kompetensi dasar, taraf kesukaran, dan format (komposisi bentuk sosial). Urutan soal pada tiap kompetensi dasar diurutkan menurut tingkat kesulitannya, mulai dari yang mudah ke yang sulit. Berdasarkan format, urutan soal dimulai dari bentuk isian singkat kemudian pilihan ganda dan terakhir urutan. Melaksanakan tes, untuk tes yang dilaksanakan dikelas, pelaksanaannya dapat dikatakan sederhana karena segala sesuatunya cukup mudah diatur. Beberapa kondisi fisik yang perlu mendapat perhatian ialah jarak tempat duduk, cahaya, ventilasi, ketenangannya, serta gangguan-gangguan yang mungkin timbul. Disamping kondisi fisik, yang perlu mendapat perhatian lagi ialah kondosi psikis siswa. Menafsirkan hasil tes, agar dapat memanfaatkan hasil ujian secara efektif, perlu dilakukan analisis terhadap hasil analisis yang telah dicapai oleh peserta didik. Caranya adalah dengan membuat tabel spesifikasi yang mampu menunjukan konsep atau sub konsep atau tema/sub tema kompetensi dasar mana yang belum dikuasai peserta didik.

Kamis, 19 Maret 2020

Resume evaluasi pembelajaran bahasa indonesia

RESUME EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Tentang :
“ASESMEN KETERAMPILAN BERBAHASA DAN BERSASTRA”

Disusun oleh :
RIZQOTUS SA’DIYAH (17188201034)

Dosen Pembimbing :
M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA
PASURUAN

Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan

Asesmen keterampilan berbahasa meliputi asesmen keterampilan mendengarkan, asesmen keterampilan berbicara, asesmen keterampilan membaca, dan asesmen keterampilan menulis. Asesmen keterampilan mendengarkan merupakan kemampuan yang memungkinkan seseorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa secara lisan. Mendengarkan merupakan proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasai serta interpretasi untuk memperolah informasi, menangkap isi, atau pesan serta memahami makna komunikasi antara sesama pemakai bahasa. Tanpa kemampuan mendengarkan yang baik, akan terjadi banyak kesalahpahaman dalam komunikasi antara sesama pemakai bahasa, terutama bila tujuan penyelenggaraannya adalah penguasaan kemampuan berbahasa selengkapnya. Dalam pembelajaran bahasa semacam itu, perkembangan dan tingkat penguasaan kemampuan mendengarkan perlu dipantau dan diukur melalui penyelenggaraan asesmen mendengarkan. Kemampuan mendengarkan bukan berupa kemampuan untuk mengenal dan membedakan bunyi bahasa saja. Kemampuan mendengarkan terkait dengan kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Kemampuan memahami makna bahasa lisan itulah yang merupakan sasaran dari tes mendengarkan. Dengan demikian, asesmen mendengarkan lebih banyak diarahkan pada kemampuan untuk memahami makna suatu bentuk penggunaan bahasa yang diungkapkan secara lisan. Beberapa bentuk asesmen mendengarkan adalah pertama identifikasi peristiwa atau kejadian, identifikasi tema cerita, identifikasi topik percakapan, menjawab pertanyaan wacana, merumuskan inti wacana, dan menceritakan kembali. Asesmen keterampilan berbicara merupakan kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran gagasan dan perasaan. Berbicara merupakan sesuatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar dan yang kelihatan yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringa otot tubuh manusian demi maksud dan tujuan gagasan yang dikombinasikan. Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Bentuk-bentuk asesmen berbicara tersebut antara lain: berbicara singkat berdasarkan gambar, wawancara, menceritakan kembali, pidato atau berbicara bebas, percakapan terpimpin, dan diskusi. Asesmen keterampilan membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang meliputi proses fisik dan psikologis. Tujuan pembelajaran membaca dapat pada proses membaca itu sendiri, dan dapat pula pada hasil yang dicapai melalui kegiatan membaca tersebut. Tingkatan kognitif dalam asesme kemampuan membaca dapat dibuat secara berjenjang. Berikut ini tingkatan menurut bloom. Taksonomi bloom pada domain kognitif berupa enam tingkat kognisi, yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dari taksonomi ini. dapat disusun taksonomi membaca menjadi tingkat literasi, interpretatif dan krisis/kreatif. Berikut ini merupakan garis besar perpaduan tingkat kognitif dari bloom dengan tingkat aktivitas membaca. Membaca literasi meliputi pengetahuan dan pemahaman, membaca interpretatif meliputi terapan sedangkan membaca kreatif meliputi analisis, sintesis dan evaluasi. Asesmen keterampilan menulis. Untuk mengetahui kemampuan menulis seseorang diperlukan adanya asesmen dengan menggunakan alat ukur tes menulis. Dalam tes menulis. Unsur kebahasaan merupakan aspek penting yang perlu dicermati, disamping isi pesan yang diungkapkan yang merupakan inti dari hakikat sebagai bentuk penggunaan bahasa yang aktif-produktif. Tes menulis dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, antara lain pendekatan diskret, pendekatan integratif, dan pendekatan pragmatik atau komunikatif. Asesmen kemampuan menulis dapat dibuat dalam beberapa bentuk seperti tes unsur-unsur kemampuan menulis, menulis reproduksi, dan menulis produksi
Asesmen aspek kesastraan, jelas bahwa pembelajaran tentang sastra tidak hanya dimaksudkan agar siswa memiliki pengetahuan tentang sastra tetapi dengan pembelajaran sastra ini diharapkan siswa benar-benar memiliki sifat dan sikap apresiatif terhadap karya sastra bangsanya. Asesmen penguasaan aspek kesastraan dapat disusun secara bertingkat mulai dari tingkat ingatan sampai dengan evaluasi. Asesmen penguasaan satra tingkat ingatan sekedar menghendaki siswa untuk mengungkapkan kembali kemampuan ingatannya yang berhubungan dengan fakta, konsep, pengertian, definisi, deskripsi, dan sebagainya. Asesmen keterampilan mendengarkan, kemampuan mendengarkan adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat suara, baik langsung maupun tidak langsung lewat media tertentu. Untuk keperluan ini, siswa harus benar-banar diberi tugas untuk mendengarkan tuturan bahasa, entah yang berwujud penuturan langsung atau penuturan lewat media elektronika tertentu, dan kemuadian diminta untuk menampilkan hasil pemahamannya dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu. Pelaksanaan pengukuran kemampuan mendengarkan dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara khusus yang sengaja dirancang untuk maksud itu. Asesmen keterampilan berbicara, kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara lisan. Asesmen keterampilan membaca, kemampuan membaca adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat tulisan. Asesmen keterampilan menulis, kemampuan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara tertulis.

Jumat, 04 Oktober 2019

Proses kreatif sastra

Nama : Rizqotus Sa'diyah
Nim : 17188201034
Matkul : psikologi sastra
Dosen pengampu : M. Bayu Firmansyah, S.S, M.Pd

Proses kreatif sastra
Proses kreatif merupakan sebuah proses yang dilalui seorang pengarang dalam menghasilkan sebuah karya sastra. Seorang pengarang tidak akan bisa membuat karya sastra seperti puisi atau prosa tanpa melalui tahapan proses. Penciptaanya seperti pengumpulan ide, pengembangan ide, dan penyempurnaan ide (Eneste, 1982: iv). Kata proses dalam kamus besar bahasa Indonesia (2008: 1106) berarti rangkaian tindakan atau tahapan dalam menghasilkan sebuah produk. Kata kreatif dalam kamus besar bahasa Indonesia (2008: 739) berarti memiliki daya cipta; memliki kemampuan untuk mencipta. Dalam KBBI (2008: 299) kata daya berarti kemampuan untuk melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Sedangkan cipta berarti kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru. Daya cipta berarti kemampuan untuk bertindak dalam menghasilkan sesuatu yang baru. Dapat disimpulkan bahwa proses kreatif adalah rangkaian perbuatan atau pengolahan yang menghasilkan produk yang baru. Wellek dan Werren (dalam Siswanto, 2008: 25) mengungkapkan bahwa proses kreatif meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan pengarang.
Ada beberapa golongan keadaan jiwa yang dapat mendorong lahirnya proses kreatif sastrawan, yaitu (1) jiwa sedang iba (terenyuh), yaitu keadaan psikis sastrawan merasa kasihan terhadap sebuah fenomena. Manakalah sastrawan menyaksikan kejadian yang menyayat hati, menyentuh rasa, mungkin akan segera lahir proses kreatif yang dalam; (2) jiwa sastrawan sedang geram, artinya dalam keadaan marah, tidak menentu. Suasana semacam ini mungkin muncul kemarahan dalam karyanya. Proses kreatif yang akan hadir adalah bahasa-bahasa kasar, akan hadir dalam karyanya. Keadaan psikis ini akan mempercepat pula proses terjadinyakarya sastra; (3) jiwa merasa kagum, artinya ada rasa heran, penuh tanda tanya, ada rasa keagungan. Pada suasana semacam ini, sastrawan hendak menyampaikan syukur, pantulan imajinatif ke arah profetif dan sejenisnya. Ketika suasana kejiwaan demikian akan menjadi sebuah inspirasi kritis bagi sastrawan. Inspirasi adalah daya dorong kuat psikis yang mengharuskan sastrawan berekspresi.
Gaya psikologis pengarang berbeda-beda. Semua karya akan membentuk tradisi khas. Ada pengarang yang membutuhkan ketenangan dan kesunyian, tetapi akan yang menulis di tengah keluarga atau keramaian sebuah cafe. Ada juga perilaku sensational, seperti menulis pada malam hari dan tidur pada siang hari.
Tahap-tahap dalam proses pemikiran kreatif, ada tiga diantaranya. Tahap pertama (persiapan) ialah tahap pengumpulan informasi dan data yang dibutuhkan, pengalaman-pengalaman yang mempersiapkan seseorang untuk melakukan tugas atau memecahkan masalah tertentu. Tahap kedua dari proses kreatif ialah tahap Iluminasi. Pada tahap iluminasi semua menjadi jelas (terang), tujuan tercapai, penulisan naskah dapat diselesaikan. Tahap ketiga ialah tahap verifikasi tinjauan secara kritis. Tujuan dari verifikasi ialah  menghasilkan suatu naskah yang siap untuk dikomunikasikan.

Rabu, 18 September 2019

Psikologi karya sastra

Nama: Rizqotus sa'diyah
Nim: 17188201034
Prodi: PBSI 2017 A
Dosen pengampu: M.Bayu firmansyah, S.S, M.Pd

PSIKOLOGI KARYA SASTRA
Dengan memfokuskan pada karya sastra, terutama fakta cerita dalam sebuah fiksi atau drama, psikologi karya sastra mengkaji tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Untuk melakukan kajian ini, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi, kemudian diadakan analisis terhadap karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis karya sastra (Ratna, 2004:344). Kalau cara pertama yang dipilih, maka karya sastra cenderung ditempatkan sebagai gejala sekunder, karena karya sastra dianggap sebagai gejala yang pasif atau semata-mata sebagai objek untuk mengaplikasikan teori. Kalau cara kedua yang dipilih, maka kita menempatkan karya sastra sebagai gejala yang dinamis. Karya sastralah yang menentukan teori, bukan sebaliknya. Untuk menentukan teori psikologi yang relevan untuk karya sastra tertentu, pada dasarnya sudah terjadi dialog, yang melaluinya akan terungkap berbagai problematika yang terkandung dalam objek (Ratna, 2004:344).
Apabila kita memilih cara yang pertama, maka sebelum membaca karya sastra, misalnya kita sudah menentukan akan menganalisis penyimpangan kejiwaan tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Dengan bekal teori psikologi abnormal, dicarilah karya sastra yang di dalamnya menceritakan tokoh yang mengalami kasus penyimpangan kejiwaan. Setelah menemukan karya sastra yang dicari, misalnya cerpen “Durian” karya Djenar Maesa Ayu (2002:19-30), kita akan menganalisis bagaimana dan mengapa tokoh Hyza dalam cerpen tersebut mengalami gangguan kejiwaan sehingga harus menjadi pasien seorang psikiater. Cara kedua ini pernah dilakukan oleh M.S. Hutagalung (1968) ketika menganalisis novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis. Pada karya Hutagalung, kajian psikologi merupakan salah satu dari kajian lainnya yang dipakai, yaitu latar belakang pengarang dan karyanya, struktur naratif, gaya bercerita, sosiologi, dan filsafat eksistensialisme. Kajian tersebut terdapat dalam buku berjudul Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis(Gunung Agung, 1963). Buku tersebut, awalnya merupakan skripsi untuk mencapai tingkat Sarjana Muda kesusastraan modern di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Kamis, 12 September 2019

Psikologi sastra

Nama: rizqotus sa'diyah
Nim: 17188201034
Dosen: M.bayu firmasyah.S,S.M,Pd

Psikologi pengarang


  • pengarang merupakan salah satu wilayah psikologi kesenian yang membahas aspek kejiwaan pengarang sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang pribadi (Wellek & Warren, 1990:90). Dalam kajian ini yang menjadi fokus adalah aspek kejiwaan pengarang yang memiliki hubungan dengan proses lahirnya karya sastra. Seperti dikemukakan oleh Hardjana (1984:62) kajian yang berhubungan dengan “keadaan jiwa” sebagai sumber penciptaan puisi yang baik telah dikemukakan oleh Wordsworth, seorang penyair romantik Inggris pada awal abad sembilan belas. Wordsworth menjelaskan bahwa “keadaan jiwa” dengan psikologi khususnya, akan melahirkan pengungkapan bahasa puisi yang khusus pula. Pendirian Wordsworth mengenai proses penciptaan puisi yang dikatakannya sebagai pengungkapan alamiah dari perasaan-perasaan yang meluap-luap, dari getaran hati yang berkembang dalam kesyahduan, juga menunjukkan adanya hubungan antara aspek psikologi dalam proses penciptaan puisi (Hardjana, 1984:62). 

Karena memfokuskan kajiannya pada aspek kejiwaan pengarang selaku pencipta karya sastra, psikologi pengarang memiliki hubungan dengan pendekatan eskpresif. Seperti dikemukakan oleh Abrams (1981) pendekatan ekspresif memandang dan mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran atau perasaan-perasaannya. Dalam hal ini pendekatan ekspresif memiliki fokus kajian dan cara yang mirip dalam mengkaji keberadaan pengarang selalu pencipta karya sastra. Walaupun demikian, kalau dicermati lebih lanjut, pendekatan ekspresif memiliki wilayah kajian yang lebih luas karena tidak hanya terbatas pada aspek kejiwaan pengarang, tetapi juga latar belakang sosial budaya tempat pengarang dilahirkan dan berkarya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa psikologi pengarang, sebenarnya merupakan salah satu wilayah kajian dalam pendekatan ekspresif. Oleh karena itu, untuk memisahkan keduanya pada kasus-kasus pengarang dan karya tertentu sering kali tidak memungkinkan.

Rabu, 15 Mei 2019

Resume pragmatik

RESUME PRAGMATIK
WACANA dan BUDAYA




DOSEN PENGAMPU : M.Bayu Firmansyah, M.Pd

DISUSUN OLEH :
NAMA : RIZQOTUS SA'DIYAH
PRODI : PBSI 2017 A
NIM : 17188201034

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI) PASURUAN
JL. KI HAJAR DEWANTARA No. 27-29
PASURUAN
Telp: (0343) 421946  Fax: (0343) 411036
Website:http://www.stkippgri-pasuruan.ac.id
Bab 9
Wacana dan budaya
Analisis wacana mencakup rentangan aktivitas-aktivitas yang sangat luas, dari penelitian yang terfokus secara sempit tentang bagaimana kata-kata yang digunakan dalam percakapan umum, sampai pada studi tentang ideologi yang dominan dalam suatu budaya, misalnya seperti yang digambarkan dalam praktik politik dan pendidikan. Jika analisis ini dibatasi pada pokok-pokok persoalan linguistik, maka analisis wacana memfokuskan pada catatan prosesnya (lisan atau tertulis) dimana bahasa itu digunakan dalam konteks-konteks untuk menyatakan keinginan.
Koherensi, secara umum apa yang ada dalam benak pemakaian bahasa sebagian besar adalah suatu asumsi koherensi, yaitu apa yang dikatakan atau dituliskan mengandung arti sesuai dengan pengalaman normal mereka. Pengalaman itu akan diartikan secara lokal oleh masing-masing individu dan karena itu pengalaman akan terikat dengan keakraban dan harapan.
Pengetahuan latar belakang, kemampuan kita untuk sampai pada penafsiran yang otomatis terhadap sesuatu yang tidak tertulis dan tidak terucapkan harus berdasar pada struktur pengetahuan awal yang ada. Struktur ini berfungsi seperti pola-pola akrab dari pengalaman-pengalaman baru. Istilah yang paling umum untuk pola jenis ini ialah skema. Skema ialah struktur pengetahuan sebelumnya yang ada dalam ingatan.
Skemata budaya, setiap orang pasti memiliki pengalaman yang mengejutkan apabila sebagian dari komponen peristiwa yang diasumsikan itu hilang tak terduga.
Pragmatik lintas budaya, studi perbedaan-perbedaan harapan berdasarkan skemata budaya merupakan bagian dari ruang lingkup yang luas yang umumnya dikenal sebagai pragmatik lintas budaya. Untuk melihat bagaimana cara penutur menyusun makna berdasar budaya yang berbeda sesungguhnya memerlukan penilaian kembali secara lengkap dari segala sesuatu yang sebenarnya sudah kita pertimbangkan sampai disini dalam survei ini.

Rabu, 08 Mei 2019

Resume pragmatik

RESUME
PRAGMATIK



Tentang:
STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR REFERENSI

Disusun oleh:

RIZQOTUS SA’DIYAH  (17188201034)

Dosen Pembimbing:
M.BAYU FIRMANSYAH, S.S, M.Pd

                           PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI)
PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
Bab 8
Struktur percakapan dan struktur referensi
Analisis percakapan, ada banyak kiasan yang digunakan untuk menerangkan struktur percakapan. Bagi sebagian orang, percakapan itu bagaikan sebuah tarian, dengan pasangan bercakapnya yang mengordinasikan gerakan-gerakannya secara lembut. Bagi orang lain percakapan itu bagaikan arus lalu lintas di perempatan jalan, yang melibatkan bayak gerak-gerakan alternatif tanpa menimbulkan kecelakaan. Akan tetapi, pendekatan pendekatan analitik yang paling banyak di gunakan ialah berdasarkan pada suatu analogi dengan kinerja ekonomi pasar, bukan berdasarkan pada suatu tarian (karena tidak ada musik) dan juga tidak berdasarkan pada lalu lintas (karena tidak ada rambu-rambu jalan).
Jeda, overlaps, and backchannel, sebagian besar percakapan melibatkan 2 peserta atau lebih dalam pengambilan giliran, dan hanya satu orang yang berbicara pada saat itu. Pergantian yang halus dari satu penutur berikutnya tampaknya sangat dihargai. Pertukaran disertai dengan kesenyapan yang lama diantara dua giliran atau dengan adanya ‘overlap’ (yaitu kedua penutur mencoba berbicara pada saat yang sama) dirasakan kaku. Jika dua orang berusaha untuk bercakap-cakap dan tidak menemukan adanya alur/flow, atau ritme yang lembut pada pergantiaannya, ini berarti bahwa lebih banyak pesan yang dipahami dari pada yang dikatakan. Terhadap makna jarak, ketiadaan keakraban atau kemudahan.
Gaya bicara, banyak fitur yang memberikan karakteristik sistem pengambilan giliran bicara yang dimasukkan dalam makna oleh pemakaiannya. Bahkan dalam suatu komunitas penutur yang ditetapkan secara luas; sering terdapat variasi yang berpotensi (memungkinkan) menimbulkan kesalah pahaman. Misalnya, beberapa individu mengharapkan bahwa keikutsertaan dalam percakapan akan sangat aktif, sehingga rata-rata pembicaraan relatif cepat, hampir tanpa jedadiantara giliran bicara, dan disertai adanya sedikit overlap atau bahkan penyempurnaan giliran orang lain. Inilah salah satu dari gaya bicara. Gaya bicara ini disebut gaya bicara pelibatan tinggi. Gaya bicara ini secara substansial berbeda dengan gaya lainnya dimana penutur menggunakan rata-rata kecepatan yang lebih lambat, mengharapkan jeda yang lebih lama diantara giliran bicara, tidak tumpang tindih, dan menghindari interupsi atau penyempurnaan giliran orang lain. Gaya bicara tanpa interupsi, tanpa adanya pemaksaan ini disebut gaya solidaritas tinggi.